intro (2)
Di bangku tunggu
kudengar derit nafas kursi yang satu-dua satu-dua
Musim telah renta dan pecah dalam cahaya
cahaya yang sakit, kataku
tak bersinar tak pula padam
redup penuh ke-tak-pastian
hujan pergi setelah mencipta genangan
kau pun pergi usai menikam kenangan
kenangan yang mati
darahnya lalu kau sebut sepi
rambutmu berubah menjadi kabut
suaramu kemudian sumbang serupa piano tua
perlahan tubuhmu hilang direbut doa
di bangku tunggu
sesak memeluk punggungku
kudengar derit nafas kursi yang satu-dua satu-dua
Musim telah renta dan pecah dalam cahaya
cahaya yang sakit, kataku
tak bersinar tak pula padam
redup penuh ke-tak-pastian
hujan pergi setelah mencipta genangan
kau pun pergi usai menikam kenangan
kenangan yang mati
darahnya lalu kau sebut sepi
rambutmu berubah menjadi kabut
suaramu kemudian sumbang serupa piano tua
perlahan tubuhmu hilang direbut doa
di bangku tunggu
sesak memeluk punggungku
Komentar
Posting Komentar